Back

Mengapa Angka Tujuh Terus Berulang dalam Kisah Raja Nggaluku?

Cerita rakyat, problem posing, dan etnomatematika dalam pembelajaran matematika
Oleh: Indah Suciati

Mengapa angka tujuh begitu akrab dalam kehidupan manusia?

Kita mengenalnya dalam tujuh hari dalam sepekan, tujuh warna pelangi, tujuh nada dalam musik, hingga berbagai tradisi yang menempatkan angka tujuh sebagai simbol penting. Di berbagai belahan dunia, angka ini sering dikaitkan dengan kesempurnaan, keberuntungan, atau siklus kehidupan. Menariknya, jauh sebelum konsep-konsep tersebut dipelajari di sekolah, masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah telah mewariskan pengulangan angka tujuh melalui salah satu cerita rakyatnya, Raja Nggaluku.

Apakah semua itu hanya kebetulan? Ataukah angka tujuh sesungguhnya menyimpan pola yang dapat dibaca melalui cara berpikir matematika?

Selama ini cerita rakyat lebih sering dipahami sebagai media penyampai pesan moral. Anak-anak membacanya untuk belajar tentang kejujuran, keberanian, kesetiaan, atau kasih sayang. Padahal, jika dicermati lebih dalam, cerita rakyat juga menyimpan pola berpikir yang teratur, sistematis, dan logis. Salah satunya adalah pola bilangan.

Dalam kisah Raja Nggaluku, diceritakan bahwa sang raja jatuh hati kepada seorang perempuan bernama Kapapitu. Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada orang tuanya untuk meminang sang gadis, mereka berkata, “Tujuh hari lagi kami akan pergi mengurus peminangan.” Sejak saat itu, angka tujuh terus mengiringi perjalanan cerita.

Tujuh hari kemudian keluarga Raja Nggaluku datang meminang. Pernikahan disepakati berlangsung tujuh hari berikutnya. Mas kawin yang diberikan berupa tujuh ekor kerbau dan tujuh karung beras. Pesta pernikahan berlangsung selama tujuh hari, lalu tujuh hari setelah pesta usai pasangan pengantin berkunjung ke rumah mertua.

Yang menarik, angka tujuh tidak hanya hadir dalam rentang waktu maupun jumlah mas kawin. Nama tokoh perempuan dalam cerita tersebut adalah Kapapitu. Dalam bahasa Kaili, pitu berarti tujuh. Dengan demikian, angka tujuh hadir hampir di setiap bagian penting cerita. Pengulangan ini menunjukkan bahwa angka tersebut tampaknya bukan sekadar angka hitungan, melainkan memiliki makna simbolik dalam cara masyarakat Kaili memandang kehidupan.

Jika kisah Raja Nggaluku hanya dibaca sebagai dongeng, pengulangan angka tujuh mungkin tidak akan mengundang perhatian. Namun, seorang guru matematika akan melihatnya dengan cara yang berbeda.

Bayangkan seorang guru memasuki kelas tanpa langsung menuliskan rumus barisan aritmetika di papan tulis. Ia terlebih dahulu membacakan kisah Raja Nggaluku, kemudian mengajak peserta didik menyusun urutan waktunya.

Hari ke-7: peminangan.

Hari ke-14: pernikahan.

Hari ke-21: pesta selesai.

Hari ke-28: kunjungan ke rumah mertua.

Guru kemudian bertanya,

“Apa yang kalian temukan?”

Pertanyaan sederhana itu mengubah suasana kelas. Peserta didik mulai memperhatikan bahwa setiap tahapan memiliki selisih waktu yang sama. Mereka menemukan sendiri pola 7, 14, 21, 28, … sebelum guru memperkenalkan istilah barisan aritmetika dengan beda tetap sebesar tujuh.

Inilah pembelajaran matematika yang sesungguhnya. Konsep tidak diberikan untuk dihafal, tetapi ditemukan melalui proses mengamati, menalar, dan menyimpulkan.

Namun pembelajaran tidak berhenti di situ.

Guru kembali bertanya.

Mengapa angka yang dipilih selalu tujuh?

Mengapa bukan enam atau delapan?

Mengapa nama tokohnya Kapapitu?

Apakah angka tujuh memiliki makna khusus dalam budaya Kaili?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan pembelajaran lebih hidup. Dalam pendidikan matematika, pendekatan semacam ini dikenal sebagai problem posing, yaitu kemampuan merumuskan pertanyaan sebagai langkah awal membangun pemahaman. Selama ini peserta didik lebih sering dilatih menjawab soal (problem solving), padahal kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik sama pentingnya. Justru dari pertanyaan itulah rasa ingin tahu tumbuh, diskusi berkembang, dan pengetahuan dibangun secara lebih bermakna.

Melalui kisah Raja Nggaluku, peserta didik tidak hanya belajar mengenali pola bilangan. Mereka juga belajar bahwa angka dapat memiliki makna sosial dan budaya. Dalam banyak peradaban, angka tertentu sering menjadi simbol harapan, kesempurnaan, atau keteraturan. Apakah makna yang sama juga hidup dalam masyarakat Kaili? Pertanyaan itu memang memerlukan kajian antropologi dan sejarah yang lebih mendalam. Namun, bagi dunia pendidikan, proses mempertanyakannya sudah menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga.

Di sinilah pembelajaran matematika bertemu dengan budaya.

Selama ini peserta didik mengenal pola bilangan melalui deretan angka di dalam buku pelajaran. Mereka diminta menentukan suku berikutnya, menghitung beda, atau mencari rumus suku ke-n. Semua itu tentu penting. Akan tetapi, konsep akan terasa jauh lebih bermakna ketika mereka menyadari bahwa pola yang sama ternyata telah hidup dalam kehidupan masyarakat jauh sebelum istilah barisan aritmetika diperkenalkan di sekolah.

Menariknya, pengulangan angka tujuh tidak hanya ditemukan dalam kisah Raja Nggaluku. Dalam budaya masyarakat Kaili, angka yang sama juga muncul dalam tradisi menentukan hari baik untuk melakukan berbagai kegiatan penting, seperti bercocok tanam, melangsungkan pernikahan, membangun rumah, maupun bepergian jauh. Perhitungan tradisional ini dilakukan dengan memperhatikan posisi bulan di langit yang kemudian dipadankan dengan bagian-bagian telapak tangan.

Masyarakat Kaili mengenal tujuh posisi yang dilalui secara berulang. Perhitungan dimulai dari pusat telapak tangan yang dimaknai sebagai sumber hidup, kemudian bergerak ke ibu jari sebagai pertanda hari baik, jari telunjuk sebagai hari yang kurang baik, jari tengah yang melambangkan hari kebesaran, jari manis sebagai hari kosong, jari kelingking sebagai tanda bahaya, lalu kembali lagi ke pusat telapak tangan sebagai awal siklus berikutnya. Setelah tujuh hitungan, pola tersebut kembali mengulang.

Jika dilihat melalui kacamata matematika, tradisi ini memperlihatkan konsep pola periodik atau pola siklik, yaitu pola yang kembali ke titik awal setelah sejumlah langkah tertentu. Dalam matematika modern, gagasan seperti ini dikenal pada konsep modulo dan pola berulang. Masyarakat Kaili tentu tidak menyebutnya sebagai modulo tujuh, tetapi cara berpikir matematis itu telah lama hidup dalam praktik budayanya.

Di sinilah hakikat etnomatematika menemukan maknanya. Matematika tidak dipaksakan masuk ke dalam budaya. Sebaliknya, matematika ditemukan karena memang telah lama hidup di dalam budaya itu sendiri. Cerita rakyat dan tradisi masyarakat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan ruang tempat konsep-konsep matematika tumbuh secara alami.

Ketika guru mengajarkan barisan aritmetika melalui kisah Raja Nggaluku, kemudian mengaitkannya dengan tradisi perhitungan hari baik masyarakat Kaili, peserta didik tidak hanya belajar mengenali pola bilangan. Mereka juga memahami bahwa leluhurnya telah menggunakan pola untuk mengatur kehidupan, mengambil keputusan, dan menjaga keteraturan sosial. Pembelajaran matematika pun tidak lagi berhenti pada kemampuan menghitung, tetapi berkembang menjadi proses memahami cara berpikir suatu masyarakat.

Barangkali, inilah cara baru untuk menjaga cerita rakyat tetap hidup. Bukan hanya dengan membacakannya kembali atau menampilkannya dalam festival budaya, tetapi dengan menjadikannya bagian dari proses belajar di sekolah. Sebab, setiap kali seorang guru membuka pelajaran matematika dengan kisah Raja Nggaluku, kemudian mengajak peserta didik menelusuri mengapa angka tujuh terus berulang dalam cerita maupun dalam tradisi masyarakat Kaili, sesungguhnya ia sedang mengajarkan dua hal sekaligus: membaca pola bilangan dan membaca kebijaksanaan budaya.

Mungkin selama ini kita mengira matematika hanya hidup di dalam buku pelajaran. Padahal, jauh sebelum rumus-rumus diajarkan di ruang kelas, masyarakat telah menggunakan pola untuk mengatur kehidupannya. Raja Nggaluku adalah salah satu buktinya, sementara tradisi menghitung hari baik masyarakat Kaili menunjukkan bahwa pola yang sama juga hidup dalam praktik budaya sehari-hari. Ketika keduanya dihadirkan kembali dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya belajar tentang barisan aritmetika atau pola periodik, tetapi juga belajar membaca jejak pengetahuan leluhurnya. Dan mungkin, di situlah matematika menemukan maknanya yang paling manusiawi: bukan sekadar menghitung angka, melainkan memahami bagaimana suatu masyarakat membangun keteraturan hidup melalui pola yang diwariskan lintas generasi.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *